Senin, 29 Oktober 2012

Makalah Sosiologi Pendidikan (perkembangan pendidikan dalam masyarakat)


PENDAHULUAN

Antara pendidikan disekolah, keluarga dan masyarakat, terdapat saling keterkaitan, disatu sisi karena pendidikan adalah bagian dari kehidupan yang dituntut mampu mengikuti perkembangan yang didalamnya. Dipihak lain karena misi yang diemban pendidikan tidak larut dalam pengaruh lingkungan sekitarnya.
Pendidikan dalam hal ini tidak diharapkan hanya menjadi buih karena gelombang perkembangan zaman. Berdasarkan nilai-nilai yang diidealkan, pendidikan akan selalu berupaya menjalani kehidupan. 

PEMBAHASAN

Perkembangan pendidikan dalam masyarakat
a.      Pendidikan dan sumber daya manusia
Dalam  sejarah perkembangan manusia sebelumnya telah mengalami suatu proses yang panjang yakni melalui belajar, pendidikan dan pengalaman tersendiri berdasarkan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secara formal di sekolah tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses balajar dan pendidikan yang dialami mereka dalam zaman yang berbeda tersebut  telah menjadikan manusia mampu memnuhi kebutuhan menjalani kehidupan hingga memasuki zaman peradaban seperti sekarang ini.
Antara pendidikan dan perkembangan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemajuan suatu masyarakat suatu bangsa sangat ditentukan pembangunan sektor pendidikan dalam penyiapan suber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sumber daya manusia bangsa Indonesia ke depan tidak terlepas dari fungsi pendidikan nasional. Dalam pasal 3 undang-undang republik Indonesia no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.[1]

b.      Pendidikan dan lingkungan sosial
Dalam arti ini pendidikan dimulai dengan interaksi pertama individu itu dengan anggota masyarakat lainnya. Belajar adalah sosialisasi yang kontinu. Setiap individu dapat menjadi murid dan menjadi guru. Individu belajar dari lingkungan sosialnya dan juga mengajar dan mempengaruhi orang lain.[2]
Dalam masyarakat primitif tidak ada pendidikan formal. Setiap anak harus belajar dari lingkungan sosialnya tanpa adanya guru tertentu yang bertanggungjawab atas tingkah laku dirinya. Juga dalam masyarakat yang maju kebanyakan kebiasaan dipelajari melalui proses pendidikan formal disekolah.[3]

c.       Pendidikan dan kebudayaan
Setiap individu pada umumnya menginginkan pendidikan, pendidikan yang dimaksud disini pendidikan formal. Dahulu banyak tugas pendidikan yang dipegang oleh keluarga dan lembaga lain yang lambat laun makin banyak dialihkan menjadi beban sekolah seperti persiapan untuk mencari nafkah, kesehatan, agama, pendidikan kesejahteraan keluarga dan lain sebagainya.[4]
Namun pendidikan formal tidak dapat diharapkan menanggung transmisi keseluruhan kebudayaan bangsa. Masyarakat masih akan tetap memegang fungsi yang penting dalam pendidikan dalam pendidikan transmisi kebudayaan. Pendidikan norma-norma dan adat istiadat, ketrampilan sosial banyak diperoleh dalam keluarga masing-masing. Proses ini diperoleh anak terutama berkat pengalamannya dalam pergaulan dengan anggota keluarga, teman sepermainan dan anggota masyarakat lainnya.

d.      Faktor-faktor dalam perkembangan manusia
Perkembangan manusia sering dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya:
1.      aspek biologis
kondisi biologis seseorang turut mempengaruhi kepribadian seseorang, misalnya seseorang yang mempunyai cacat jasmani seperti buta, tuli, sumbing mempunyai rasa rendah diri sehingga menjadi pemalu, pendiam,  enggan bergaul,dan sebagainya.[5]
2.      Lingkungan sosial budaya
Semua orang hidup dalam kelompok dan saling berhubungan melalui bahasa. Hampir segala sesuatu yang dilakukannya, bahkan apa yang dipikirkan dan dirasakan bertalian dengan orang lain. Anak yang dididik diluar masyarakat manusia  misalnya di tengah-tengah serigala hutan tidak menunjukan kelakuan manusia biasa bahkan tidak dapat berjalan atau makan seperti manusia.[6]

e.       Perkembangan pendidikan dalam masyarakat
Pada mulanya dimana pendidikan diartikan sebagai proses  mendewasakan anak, maka pendidikan hanya dapat dilakukan oleh orang yang lebih dewasa kepada anak yang belum dewasa. Konsep ini juga teah mempengaruhi banyak kalangan khususnya pada suku bangsa jawa dengan pepatahnya yang terkenal yaitu ora ana kebo nyusu gudel atau tidak pernah ada kerbau menyusu pada anak kerbau. Yang artinya orang tua tidak mungkin berguru kepada anak, sehingga pendidikan hanya dapat diberikan oleh orang yang dewasa kepada anak yang belum dewasa.[7] Bila mengacu pada pendidikan sepanjang hayat maka menjadi lebih jelas bahwa pendidikan dapat terjadi kapanpun, dimanapun, oleh siapapun dan kepada siapapun. Orang tua yang bijaksana tidak akan meremehkan pendapat cucunya agar melaksanakan program nasional keluarga berencana.
Setiap anak harus  belajar dari pengalaman di lingkungan sosialnya dengan menguasai sejumlah ketrampilan yang bermanfaat untuk merespon  kebutuhan hidupnya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan sangat berperan dalam proses sosialisasi individu agar menjadi anggota masyarakat yang bermakna bagi masyarakatnya.[8]

f.       Sekolah dan masyarakat
Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai yang diharapkan. Dengan adanya pendidikan apa yang dicita-citakan masyarakat dapat diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan. Salah satu peranan pendidikan dalam masyarakat adalah dalam fungsi sosial yakni sekolah merupakan salah satu sarana pendidikan yang diharapkan masyarakat.[9]
Masyarakat umumnya memandang pendidikan sebagai peranan penting dalam mencapai tujuan sosial. Pemerintah bersama orang tua menyediakan anggaran pendidikan yang diperlukan untuk kemajuan pendidikan, sosial, dan pembangunan bangsa sebagai upaya mempertahankan nilai tradisional yang berupa nilai luhur yang harus dilestarikan, seperti rasa hormat kepada orang tua, kewajiaban mematuhi aturan dan norma-norma yang beraku.[10] Pendidikan juga diharapkan untuk memupuk iman dan takwa kepada Allah, meningkatkan kemajuan dan pembangunan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.

g.      Fungsi Sekolah
Diantaranya yaitu:
1.      Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
Anak yang telah menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sebagai mata pencaharian atau setidaknya mempunyai dasar untuk mencari nafkahnya. Makin tinggi pendidikan makin besar harapannya memperoleh pekerjaan yang baik. 
2.      Sekolah memberikan ketrampilan dasar
Orang yang telah bersekolah setidak tidaknya pandai membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan dalam tiap masyarakat modern.
3.      Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib
Sekolah sering dipandang sebagai jalan bagi mobilitas sosial. Melalui pendidikan orang dari golongan rendah dapat meningkat ke golongan yang lebih tinggi. Orang tua mengharapkan agar anak-anaknya mempunyai nasib yang lebih baik dan karena itu berusaha untuk menyekolahkan anaknya jika mungkin sampai memperoleh gelar dari suatu perguruan tinggi.
4.      Sekolah menyediakan tenaga pembangunan
Pendidikan dipandang sebagai alat yang paling ampuh untuk menyiapkan tenaga yang terampil ahli dalam segala sektor pembangunan. Kekayaan alam hanya mengandung arti bila didukung oleh keahlian. Oleh karena itu manusia merupakan sumber utama bagi pembangunan negara.
5.      Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial
Masalah sosial diharapkan dapat diatasi dengan mendidik generasi muda untuk mencegah penyakit-penyakit sosial misalnya kejahatan, kecelakaan lalu lintas, narkotika dan sebagainya.[11]
6.      Sekolah alat mentransportasi kebudayaan
Sekolah, terutama perguruan tinggi diharapkan menambah pengetahuan dengan mengadakan penemuan-penemuan baru yang membawa perubahan dalam masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang besar didunia ini.[12]

h.      Sekolah sebagai alat kontrol dan integrasi sosial
Sekolah memegang peranan penting dalam sosialisasi anak-anak, ada empat cara yang dapat digunakan sekolah yakni:
1.      Transmisi kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai informasi melalui pengajaran secara langsung misalnya tentang falsafah Negara, sejarah bangsa dan sifat-sifat Negara yang baik.
2.      Mengadakan kumpulan-kumpulan sosial seperti pramuka, kelompok olahraga, dan lain sebagainya
3.      Memperkenalkan anak dengan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan anak sebagai model yang dapat ditiru kelakuannya.
4.      Menggunakan tindakan positif dan negatif untuk mengharuskan murid mengikuti kelakuan yang layak dalam bimbingan sosial, yang termasuk tindakan positif adalah pujian, hadiah, yang termasuk tindakan negatif adalah hukuman.[13]


PENUTUP

Dalam dunia yang dinamis ini tak dapat tidak setiap mayarakatt akan mengalami perubahan. Tidak turut berubah dan mengikuti pertukaran zaman akan membahayakan eksistensi masyarakat itu. Tiap pemerintahan akan mengadakan perubahan yang diinginkan demi kesejahteraan rakyatnya dan keselamatan negaranya. Perubahan-perubahan itu antara lain tercermin dalam perubahan dan pembaruan kurikulum dalam pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Ary. 2000. Sosiologi pendidikan. Jakarta: Rhineka Cipta
Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Nasution. 2004. Sosiologi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara



[1] Abdullah idi, sosiologi pendidikan individu, masyarakat dan pendidikan, (Jakarta: raja grafindo persada, 2011), h. 60
[2] Nasution, sosiologi pendidikan, (Jakarta: bumi aksara, 2004), h. 11
[3] Ibid
[4] Ibid, h. 13
[5] Ary h gunawan, sosiologi pendidikan suatu analisis sosiologi tentang pelbagai problem pendidikan, (Jakarta: Rineka cipta, 2000), h.59
[6] Nasution, sosiologi pendidikan, h. 12
[7] Ary h gunawan, sosiologi pendidikan, h. 55
[8]  Ibid, h. 56
[9] Abdullah idi, sosiologi pendidikan, h. 69
[10] Ibid, h. 71
[11]  Nasution, sosiologi pendidikan, h. 16
[12] Ibid
[13] Ibid. h. 18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar