Selasa, 15 Mei 2012

Makalah Studi Tokoh Pendidikan Islam dan Kawasan Islam


 STUDI TOKOH PENDIDIKAN ISLAM
 K H. HASYIM ASY’ARI


Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah           : Studi Tokoh Pendidikan Islam
Dosen Pengampu   : Dra. H. Fatikhah, M.Ag

















 












Disusun Oleh:
MUHAMMAD SYAMSUDDIN
202109016

PRODI PAI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2012


PENDAHULUAN

KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendidikan yang banyak mencurahkan gagasan mengenai etika murid terhadap guru yang melandasi ajarannya dengan penekanan religious ethic. Etika religius ini, di dasarkan atas keimanan sehingga proses pencarian ilmu itu merupakan bagian dari realisasi iman dan sekaligus untuk menjaganya dalam rangka mencari ridha Allah. Dalam kerangka praksisnya, mencari ilmu senantiasa harus mengacu pada etika. Menurut baliau hal ini, hanya dapat dihasilkan apabila etika murid terhadap guru dilaksanakan secara baik sesuai dengan aturan dalam kegiatan belajar mengajar yang berdasarkan kepada akhlak. Mengapa demikian, karena menurut beliau  adanya etika religius  itu merupakan komponen yang menjadi indikator dan prasyarat keberhasilan dalam pendidikan.


PEMBAHASAN

A.     Biografi dan Setting Sosial
Nama lengkap KH. Hasyim Asyari adalah Muhammad Hasyim Asyari ibn Abdul Wahid ibn Abdul Halim yang mempunyai gelar pangeran Bona ibn Abdul Rahman yang dikenal dengan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijoyo ibn Abdullah ibn Abdul Aziz ibn Abdul Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden Ain Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri. Beliau lahir di Jombang Jawa Timur pada hari selasa kliwon 24 Dzul Al Qaidah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871, anak ketiga dari sepuluh bersaudara dari keluarga kyai. Latar belakang dari keluarga santri dan hidup di pesantren sejak lahir memberikan sentuhan sendiri bagi Hasyim. Ia pun di didik dan dibesarkan di lingkungan pesantren yang diasuh ayahnya kyai Asyari.[1]
Sejak usia 13 tahun, KH. Hasyim sudah dipercaya oleh ayahnya untuk mengajar para santri yang usianya lebih tua dari dia. Diusianya yang masih muda Hasyim menimba ilmu ke pondok pesantren di sekitar Jawa, yang meliputi wonokroyo (Probolinggo). Langitan (Tuban), Demangan (Bangkalan), Siwalan (Buduran),  Kecerdasan dan ketekunan dalam menimba ilmu, membuat pengasuh pondok Sidoarjo yakni KH. Ya’kub amat menyukai dan menjodohkan dengan anaknya. Hasyim menikah dengan Khatidjah pada tahun 1303 H/1892 M. yang saat itu Hasyim berusia 21 tahun[2].
Setelah menikah KH. Hasyim Asyari bersama istrinya segera melakukan ibadah haji. Kemudian mertua KH. Hasyim Asyari menganjurkan untuk menuntut ilmu di Mekkah, hal itu didorong oleh tradisi pada saat itu bahwa seorang ulama belum dikatakan cukup ilmunya jika belum mengaji di Mekkah. Setelah 7 bulan di Mekkah, istrinya melahirkan putranya yang pertama dan diberi nama Abdullah. Tidak berapa lama kemudian istri yang dicintainya wafat di Mekkah. Belum genap 40 hari sepeninggal istrinya, Abdullah putranya yang masih bayi meninggal pula.  Kemudian ia memutuskan untuk pulang ke tanah air Indonesia.[3]
Pada tahun 1893 KH. Hasyim berangkat lagi ke Mekkah bersama adik kandungnya Anis. Sejak itulah Hasyim terus menetap di Mekkah dan berguru kepada Syekh Machfudz At-Tarmasi yang dikenal orang yang sangat ahli dalam ilmu hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Sedangkan guru lainnya adalah Syaikh Akhmad Chatib beliau adalah menantu dari Syaikh Shaleh Kurdi. Murid Syaikh Chatib banyak yang menjadi ulama terkenal diantaranya KH.Hasyim sendiri, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. M. Bisri Syamsuri, KH. Ahmad Dahlan (tokoh Muhammadiyah), Syaikh Muhammad Nur Mufti, Syaikh Hasan Maksum dan masih banyak lagi.

Karya KH. Hasyim Asyari
Tidak banyak para ulama dari kalangan tradisional yang menulis buku, akan tetapi tidak demikian dengan KH. Hasyim Asyari, kitab yang disusunnya antara lain:[4]
1.        Adab Al-alim wa al Muta’alim fima Yahtaj Illah al-Muta’alim fi Ahuwal wa ma Yataqaff al-Mu’allim fi Maqamat Ta’limih,
2.        Ziyadat taliqat, Radda fiha mandhumat al-syaikh Abd Allah bin Yasin all-Fasurani Allati Bihujubiha Ala ahl Jamiyah Nahdlatul Ulama,
3.        Al Tanbihat al-Wajibat liman Yashana al-Maulid al Munkarat,
4.        Ar-Risalat al-Jamiat, Sharh fiha Ahwaal al-Mauta wa Asyirat al-Sa’at ma’ Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid,ah
5.        Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayid al-Mursalin, bain fihi Ma’na al-Mahabbah Lirasul Allah wa ma Yata’allaq biha Man ittaba’iha wa ihya al-Sunnatih,
6.        Hasyiyah ala Fath al-Rahman bi Syart Risalat al-Wali Ruslan li Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari,
7.        Al-Durr al-Muntasirah fi Masail al-Tis’i Asyarat, Sharh fiha Masalat al-Thariqah wa al-Wilayah wa ma Yata’allaq bihima min al-Umur al-Muhimmah li Ahl al-Thariqah,
8.        Al-Tibyan fi al-Nahy’an Muqathi’ah al-Ikhwan, bain fih Ahammiyat Shillat al-Rahim wa Dhurar Qath’iha,
9.        Al-Risalat al-Tauhidiyah, wahiya Risalah Shagirat fi Bayan Aqidah Ahl Sunnah wa al-Jamaah,
10.    Al-Qalaid fi Bayan ma Yajib min al-aqaid.
Disamping bergerak dalam dunia pendidikan. KH. Hasyim menjadi perintis dan pendiri organisasi NU (Nahdlatul Ulama), sekaligus sebagai Rais Akbar. Pada bagian lain beliau juga bersikap konfrontatif terhadap penjajah Belanda. Bahkan pada saat revolusi fisik beliau menyerukan jihad melawan penjajah dan menolak bekerjasama dengannya. Sementara pada masa penjajahan Jepang beliau sempat ditahan dan diasingkan ke Mojokerto, beliau wafat di Tebu Ireng, Jombang tanggal 25 Juni 1947 M atau 7 Ramadhan 1366 H dalam usia 79 tahun[5].

B.     Pemikirannya Tentang Pendidikan
Salah satu karya monumental KH. Hasyim Asyari yang berbicara  tentang pendidikan adalah kitab Adab al Alim wa Muta’allim fima Yahtaj Ilah al Muta’alim fi Ahuwal Taalum wa ma Yataqaf al Muta’alim fi Maqamat Talimih yang dicetak pertama kali pada tahun 1415 H, sebagaimana umumnya kitab kuning, pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih ditekankan pada masalah pendidikan etika[6].
1.      Signifikansi Pendidikan
Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu yaitu pertama bagi murid hendaknya berniat suci untuk menuntut ilmu jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekannya. Kedua bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata-mata. Disamping itu yang diajarkan hendaknya sesuai dengan tindakan-tindakan yang diperbuat.[7]
Dalam hal ini yang menjadi titik penekanannya adalah pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.[8]

2.      Tugas dan Tanggungjawab Murid
a.       Etika yang harus diperhatikan dalam belajar
Dalam hal ini terdapat sepuluh etika yakni:
a)         membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian,
b)        meluruskan niat untuk belajar,
c)         bersabar dan qonaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan
d)        tidak menunda-nunda kesempatan untuk belajar,
e)         pandai mengatur waktu,
f)          menyerdahanakan makan dan minum,
g)         bersikap hati-hati (wara)
h)         menghindari makanan dan minuman yang menjadikan kemalasan dalam belajar,
i)           meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah; menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan.
b.      Etika seorang murid terhadap guru
Dalam hal ini ada beberapa etika:
a)    hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang dikatakan atau dijelaskan oleh guru,
b)    memuliakan guru,
c)    memperhatikan apa yang menjadi hak guru 
d)    bersabar terhadap kekerasan guru,
e)    duduklah dengan rapi dan sopan bila berhadapan dengan guru,
f)      berbicaralah dengan sopan dan lemah lembut,
g)    dengarkan fatwanya serta jangan sekali-kali menyela ketika sedang menjelaskan. Dan gunakan anggota yang kanan bila menyerahkan sesuatu kepadanya.
c.       Etika murid terhadap pelajaran
Murid dalam menuntut ilmu hendaknya memperhatikan etika sebagai  berikut:
a)      pancangkan cita-cita yang tinggi,
b)      bergaulah dengan orang yang berilmu tinggi (pintar),
c)      ucapkan salam bila sampai ditempat majelis taalim (sekolah atau madrasah),
d)      bila terdapat hal-hal yang belum dipahami hendaklah ditanyakan,
e)      pelajari pelajaran secara kontinyu (istiqomah). 

3.      Tugas dan Tanggungjawab Guru
a.       Etika seorang guru
Dalam hal ini guru hendaknya[9]:
a)             senantiasa tawadu,
b)             tidak menggunakan ilmunya untuk meraih keduniaan semata,
c)             menghindari tempat maksiat,
d)             bersikap ramah dan suka menaburkan salam,
e)             menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu pengetahuan,
f)               membiasakan diri untuk menulis, meringkas kemudian membukukan ilmu yang telah diketahuinya.
b.      Etika guru ketika mengajar
Dalam hal ini guru hendaknya[10]:
a)      mensucikan diri dari hadast dan kotoran,
b)      berpakaian yang sopan dan rapi bila perlu memakai wewangian,
c)      berniatlah ibadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik,
d)      memberi salam ketika masuk kelas, sebelum mengajar mulailah dengan berdoa,
e)      menjauhkan diri dari bergurau dan banyak tertawa,
f)        pada waktu mengajar hendaklah mengambil tempat duduk yang strategis
g)      jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, mengantuk, marah dan sebagainya.
h)      menasihati dan menegur dengan baik jika ada anak yang bandel,
i)        beri kesempatan anak didik yang terlambat untuk mengikuti pelajaran yang sedang dilangsungkan,
j)        beri kesempatan anak didik untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas,
k)      bersikaplah terbuka terhadap berbagai macam persoalan yang ditemukan.
c.       Etika guru bersama murid
Etika tersebut antara lain
a)      menggunakan metode yang mudah dipahami murid,
b)      memberi motivasi kepada peserta didik,
c)      memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu,
d)      selalu memperhatikan kemampuan peserta didik,
e)      tidak terlalu memunculkan salah seorang peserta didik dan menafikan yang lainnya,
f)        bila terdapat peserta didik yang berhalangan hadir hendaknya mencari hal ikhwal kepada teman-temannya.

4.      Etika Terhadap Buku, dan Hal-hal yang Berkaitan Dengannya
Etika tersebut antara lain[11]:
a)      mengusahakan agar memiki buku pelajaran yang diajarkan,
b)     mengijinkan bila ada teman meminjam buku pelajaran sebaliknya bagi peminjam harus menjaga barang pinjaman tersebut,
c)      letakan buku pada tempat yang layak dan terhormat,
d)     bila menyalin buku pelajaran syariah hendaknya membaca Basmalah, sedangkan bila yang disalinnya adalah ilmu retorika atau semacamnya maka mulailah dengan amdalah dan shalawat nabi.
Untuk mengawali suatu proses belajar maupun etika yang harus diterapkan terhadap kitab atau buku yang dijadikan sebagai sumber rujukan menjadi catatan tersendiri, sebab hal ini tidak dijumpai pada etika-etika belajar pada umumnya. Sangatlah beralasan mengapa kitab yang menjadi sumber rujukan harus diperlakuan istimewa. Kitab kuning biasanya disusun oleh seseorang yang mempunyai keistimewaan atau kelebihan ganda, yakni tidak hanya ahli dalam bidangnya akan tetapi juga bersih jiwanya.
Menurut KH. Hasyim Asyari, ilmu adalah nur Allah, maka bila hendak mencapai nur tersebut maka harus bersuci terlebih dahulu, sebenarnya tidak hanya suci dari hadast, tetapi juga suci jiwa atau rohaninya. Dengan demikian diharapkan ilmu yang bermanfaat dan membawa berkah dapat diraihnya.

C.     Analisis
Pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asyari terpusat pada etika dalam mencari ilmu pengetahuan dengan ditulisnya kitab Adab al-Alim wa al-Muta’alim yang selesai pada tanggal 22 Jumadil al-Tsani 1343 H, secara keseluruhan bab yang masing-masing membahas tentang keutamaan ilmu, etika yang mesti dicamkan dalam belajar, etika seorang murid terhadap guru, etika yang harus diperhatikan guru, etika guru terhadap terhadap murid-muridnya dan etika menggunakan literatur dan alat-alat yang digunakan dalam belajar. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang mencarinya harus memperhatikan etika-etika yang luhur pula. Dengan demikian literatur yang menyajikan etika-etika belajar merupakan keniscayaan[12].
Catatan yang menarik dan perlu dikedepankan dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah etika atau statement dimana guru harus membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas, yang pada masanya jarang sekali dijumpai. Dan hal ini beliau buktikan dengan banyaknya kitab hasil karangan atau tulisan beliau.
Betapa majunya pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dibanding tokoh-tokoh lain pada zamannya. Dan pemikiran ini ditumbuh serta diangkat kembali oleh pemikir pendidik zaman sekarang ini, yaitu Harun Nasution, yang mengatakan hendaknya para dosen-dosen di Perguruan Tinggi Islam khususnya agar membiasakan diri untuk menulis.




PENUTUP
Kesimpulan
Dengan demikian, dalam kontek ke kinian, pemikiran beliau patut direspon dan ditumbuhkembangkan dalam rangka mencapai fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk akhlak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, serta menjadi negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Sangat jelas sekali, bahwa proses pembelajaran tidak hanya sekedar di arahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, ia mampu membentuk akhlak yang sempurna dan mengoptimalisasikan akhlak dan religiusitas dalam setiap unsur pendidikan. Hal ini akan mudah terjalin keharmonisan dalam proses pembelajaran. Karena di dalamnya terdapat nilai-nilai demokratis, keterbukaan, kemanusiaan, eksistensi murid diakui dan diperlakukan dengan manusiawi diberikan hak untuk mengemukakan pendapatnya, bertanya, mengkritik dan diperlakukan sesuai dengan bakat dan potensi[13].  Jadi hal ini, tidak akan membunuh kreatifitas murid, juga mendorong terciptanya akhlak yang mulia dalam pendidikan, sebagaimana itu menjadi cita-cita dan tujuan pendidikan Islam.
Karena dengan hal itu, kita akan merasa mudah mencari format pendidikan Islam yang benuansa akhlak al-karimah. Mengingat keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak ditentukan oleh adanya etika dan religius dalam setiap proses pembelajaran. Dalam hal ini, dipertegas oleh Athiyah al-Abrazy  bahwa pendidikan budi pekerti atau akhlak merupakan jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak sempurna merupakan tujuan sebenarnya dari pendidikan Islam[14]


DAFTAR  PUSTAKA
al-Abrazi, Athiyah. 1974. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan. Jakarta: Bulan Bintang
Masyuri, Aziz. 2008. 99 Kyai Kharismatik Indonesia. Yogyakarta: Kutub
Mohammad, Herry. 2006. Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Pada Abad 20. Depok: Gema Insani,
Nata, Abudin. 2001. Perspektif Islam Tentang Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali. Jakarta: Raja Grafindo
Ramayulis dan Samsul Nizar. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press




[1] Aziz Masyuri, 99 Kyai Kharismatik Indonesia, (Yogyakarta: Kutub, 2008),  h. 210-211
[2] Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Pada Abad 20, (Depok: Gema Insani, 2006), h. 22
[3] Aziz Masyuri, 99 Kyai Kharismatik Indonesia….h. 210
[4] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2005), h. 216-217
[5] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 216-217
[6] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 218-219
[7] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 219-220
[8] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 220
[9] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 224-226
[10] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 226-228
[11] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam….h. 229-231
[12] Aziz Masyuri, 99 Kyai Kharismatik Indonesia….h.228
[13] Abudin Nata, Perspektif Islam Tentang Hubungan Guru-Murid: Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali, (Jakarta: Raja Grafindo, 2001),  h. 1114
[14] Athiyah al-Abrazi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974),  h. 15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar