Sabtu, 19 Mei 2012

Makalah Sejarah Pendidikan Islam Masa Pembinaan


SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
DI MASA PEMBINAAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
Mata kuliah                       : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen pengampu              : A Zaeni, MAg




Disusun oleh :

1.      Sobari Jaya S               202109009
2.      Rokhimah                    202109012
3.      Nurul Witri                  202109013
4.      Muh Syamsuddin        202109016
5.       

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat kepada kita, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Sejarah Pendidikan Islam Masa Pembinaan”.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang telah membawa membawa risalah Islam yang penuh dengan ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadi bekal hidup kita didunia dan diakhirat kelak.
Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sampai pembuatan makalah ini selesai, kami berharap agar makalah ini bermanfaat bagi kita semua, kritik dan saran dari pembaca kami nantikan untuk perbaikan pembuatan makalah selanjutnya




Pekalongan , 16 Oktober 2010
Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

Dengan masa pembinaan pendidikan islam yang dimaksudkan adalah masa dimana proses penurunan ajaran islam kepada Muhammad dan proses pembudayaannya (masuknya ke dalam kebudayaan manusiawi sehingga diterima dan menjadi unsur yang menyatu kedalam kebudayaan manusia) berlangsung. Masa tersebut berlangsung sejak Muhammad menerima pengangkatannya sebagai Rosul sampai dengan lengkap dan sempurnanya agama Islam menjadi warisan budaya umat islam sepeninggal  nabi Muhammad SAW, masa tersebut berlangsung selama 22 tahun atau 23 tahun sejak beiau menerima wahyu pertama kali yaitu tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah bertepatan dengan 6 Agustus 610 M sampai dengan wafatnya pada tanggal 12 Robiul Awal 11 Hijriyah, bertepatan dengan 8 Juni 832 M.
Dengan meninggalnya nabi Muhammad maka selanjutnya pemerintahan dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin yang diantaranya adalah:
  • Abu Bakar ash Shidieq ( masa pemerintahan tahun 632-634 M atau 11-13 H)
  • Umar bin Khattab (masa pemerintahan tahun 634-644 M atau 13-23 H)
  • Usman bin Affan (masa pemerintahan  tahun 644-655 M atau 23-25 H)
  • Ali bin Abi Thalib ( masa pemerintahan tahun 656-660 M atau 26-40 H)

 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendidikan Pada Masa Rosulullah saw
2.1.1 Periode Mekkah
Menurut Soekarno dan Ahmad Supardi, Pendidikan islam terjadi sejak nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosul Allah di mekkah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Pendidikan masa ini merupakan prototype yang terus menerus dikembangkan oleh umat islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya, Pendidikan islam mulai dilaksanakan Rosulullah setelah mendapat perintah dari allah agar beliau menyeru kepada Allah  sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surat Al Mudatsir 74 ayat 1-7.
1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
Menyeru berarti mengajak, dan mengajak berarti mendidik. Langkah awal yang nabi tempuh adalah menyerukan keluarganya terlebih dahulu, pertama Nabi serukan istrinya khadijah untuk beriman dan menerima petunjuk Allah yang kemudian diikuti oleh Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah[1]. Setelah itu nabi mengajak sahabat-sahabat  yang dilakukannya secara hati-hati dan tidak sembarangan beliau hanya mengarahkan ajakannya kepada sahabat-sahabat yang kuat imannya dan dari kalangan Quraish yang berpengaruh dimasyarakat
Sebagai upaya untuk memperkokoh dakwah Rosululoh diantara mereka adalah Abu Bakar sahabat yang beliau kenal pribadinya dan terbuka pikirannya setelah beriman dan mendukung nabi Abu Bakar secara diam-diam mengajak kaum Quraish untuk memeluk agama islam sahabat-sahabat lain yang masuk islam adalah Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abu waqas Abd al Rahman bin Auf, Thallah bin Ubaidillah, Abu Ubaidilah bin Jarrah, Arqam bin Abi Al Arqom, Fatimmah bin Khattab bersama suaminya Saad bin Tsabit dan beberapa orang lainnya. Sesudah Nabi mendapat pengikut beliau menghimpun
 mereka untuk menerima penjelasan-penjelasan yang diajarkan secara sembunyi-sembunyi dirumah Arqam dibukit Shafa.
Rumah Arqam dipilih sebagai tempat berkumpulnya umat islam untuk menerima pelajaran dari nabi karena Arqam adalah sahabat nabi yang setia sekaligus lokasinya yang sangat baik terhadang dari penglihatan kaum Quraish. Hal ini penting dilakukan untuk memberi keamanan dan ketenangan kepada kaum muslimin yang sedang melaksanakan kegiatan dan pertemuan untuk menerima pelajaran. Rosulullah mengajarkan pokok-pokok agama islam dan membacakan ayat-ayat Alquran kepada para sahabat dan pengikut nabi pendidikan pertama yang dilakukan nabi adalah membina pribadi muslim agar menjadi kader-kader yang berjiwa kuat dan tangguh dari segala cobaan untuk di persiapkan menjadi masyarakat islam dan mubaligh serta pendidik yang baik.[2]
Berikutnya Rosulullah mengarahkan dakwah kepada Bani Muthalib setelah turun petunjuk Allah dalam QS Al Baqarah 2:214-215
214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.
215. mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.
Seruan ini merupakan langkah awal untuk menyampaikan islam secara terang-terangan. Seruan Nabi kali ini disambut dan dibenarkan dengan baik oleh sebagian dan sebagian lain menentang dan mendustakannya seperti Abu Lahab dan Istrinya. Dakwah nabi berjalan selama tiga tahun sampai turunlah wahyu Allah dalam surat Al Hijr 15: 94-95
94. Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.
95. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu),

Yang menyerukan islam secara terang terangan kepada manusia secara umum baik penduduk mekkah maupun luar mekkah miskin maupun kaya.
Kegagalan Rosulullah mengajak masuk islam suku Quraish yang diwarnai kekerasan dan perlawanan oleh mereka mendorong mencari dukungan dan menambah pengikut ke Thaif tetapi gagal kemudian setiap musim haji, Rosulullah mengunjungi kemah-kemah jemaah untuk menyampaikan seruan islam kepada mereka. Tidak semua jemaah yang dikunjungi Rosulullah menerima islam, kecuali kelompok jamaah berasal dari Yatsrib dari kabillah Khazraj, kabilah ini sangat mendambakan kedamaian setelah lama mengalami pertentangan dengan kaum Yahudi di Yatsrib. Dimusim haji tahun ke 12 kenabian datang 12 orang laki-laki dan seorang perempuan penduduk Yatsrib menemui Rosulullah di Aqabah untuk menyatakan baiah kepada Nabi dan dikenal dengan Baiah Aqabah 1.
Setelah musim haji selesai mereka kembali ke Yatsrib dengan bekal pengetahuan yang diperoleh dan semangat islam yang berkobar di tambah pengaruh ikrar yang diucapkan dihadapan Nabi, mereka kembali ke Yatsrib dan diminta Rosulullah untuk menyampaikan islam kepada penduduk Yastrib lainnya. Selain itu bersama mereka Rosulullah mengirim seorang pemuda Mus’ab bin umair untuk mengemban tugas mendidik dan mengajarkan ajaran islam kepada kaum Muslimin di Yatsrib usaha Musab bin Umair dan mereka yang telah berikrar membawa hasil yang tidak mengecewakan agama islam memperoleh kemajuan pesat di Yatsrib sampai banyak orang-orang Yatsrib masuk islam.
Pada musim haji tahun berikutnya serombongan jamaah haji Yatsrib sejumlah 73 orang menuju mekkah mereka bersepakat mengajak Nabi pindah ke Yatsrib yang mereka harapkan menjadi penengah bagi pertikaian antara Kabilah Kharaj dengan orang-orang Yahudi dan Kabilah Aws. Disamping itu mereka juga bertujuan baiah kepada Rosulullah di Aqabah yang kemudian dikenal dengan baiah Aqabah 2 turut pula rombongan ini Musab bin Umair untuk melaporkan hasil usaha dan perjuangannya dalam mendidik penganut-penganut islam yang baru.
Nabi Muhammad saw menerima wahyu yang pertama di gua Hira di Mekkah pada tahun 610 M, Wahyu yang pertama turun yaitu 5 ayat surat Al Alaq dan kemudian disusul 3 ayat surat Al Mudatsir,
Dalam kedua wahyu yang mula-mula turun itu dapat diambil kesimpulan bahwa pendidkan islam terdiri dari empat macam yaitu:[3]
  • Pendidikan keagamaan yaitu hendaknya membaca dengan nama Allah semata-mata jangan dipersekutukan dengan nama berhala karena tuhan itu maha besar dan maha pemurah sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya
  • Pendidikan akliyah dan ilmiah yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta alam akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya. Untuk mempelajari hal itu seharusnya dengan banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat.
  • Pendidikan ahlak dan budi pekerti yaitu si penddik hendaklah suka memberi atau mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima pemberian itu, melainkan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridhaannya begitu juga si pendidik harus berhati sabar dalam melakukan tugasnya.
  • Pendidik jasmani (kesehatan) yaitu mementingkan kebersihan , terutama si pendidik harus suci hatinya dan baik budi pekertinya supaya menjadi contoh dan teladan bagi anak didikannya.

2.1.2 Cara Nabi Menyiarkan Agama Islam
Cara nabi menyiarkan agama islam ialah dengan berpidato dan bertablight di empat yang amai di kunjungi orang seperti dipekan Ukaz terutama dimusim haji. Ketika itu banyak orang dari suku bangsa arab datang berkunjung ke kota mekkah begitu pula nabi menyiarkan agama islam dengan mengajarkan agama islam dengan membacakan ayat Alquran yang berisikan petunjuk dan pengajaran kepada umum.[4]
Oleh karena isi Alquran terang dan hebat, bahasanya indah, menarik dan bersemangat lambat laun penduduk Mekkah memeluk agama islam sedikit demi sedikit akhirnya bertambah banyak dan ramai juga meskipun mereka menderita siksaan dari kaum Quraish mereka tetap dalam keimanan Nabi sendiri menderita kesulitan juga tetapi beliau juga tetap menyiarkan agama islam.
Setelah wafat Abu thalib dan Siti khatijah maka sewenang-wenanglah kaum Quraish menindas Nabi dan sahabat-sahabatnya pada tahun itulah Nabi pergi Isra dan Miraj tahun 621 Masehi, Pada malam itu diwajibkan oleh Allah sholat lima waktu sehari semalam sebelum kejadian itu Nabi telah sholat juga bersama sahabat-sahabatnya tetapi tidak lima kali seperti sekarang ini.


2.1.3 Inti Sari Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diberikan Nabi
 Muhammad di Mekkah Selama 13 Tahun
Nabi tinggal dimekkah sejak mulai jadi nabi sampai hijrah ke madinnah lamanya 12 tahun 5 bulan dan 21 hari pengajaran yang diberikan nabi selama itu adalah wahyu Allah Alquran terdiri dari 93 surat yang diturunkan di Mekkah sebelum hijrah yaitu surat Makkiyah namanya.
Diantara inti pengajaran dimekkah ialah menerangkan pokok-pokok agama islam seperti beriman kepada Allah, Rasulnya, dan Hari Akhir adapun Zakat belum terperinci di mekkah bahkan zakat pada waktu itu berarti sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.
Selain dari itu menyuruh manuusia berahlak mulia dan berkelakuan baik dan melarang mereka berperangai jahat dan berkelakuan buruk

2.1.4 Periode Madinah
Karena di Mekkah selalu mendapat tantangan dari kaum Quraish yang selalu mengganggu dakwah islam, Rosullullah akhirnya hijrah ke Madinah setelah sampai di Madinah usaha pertama yang dilakukan oleh Nabi adalah mendirikan masjid sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan di masjid ini nabi melaksanakan shalat berjamaah membacakan Alquran dan memberikan pengajaran islam Nabi juga mengadakan musyawarah yang berkenaan dengan kemasyarakatan dan politik islam di masjid ini.
Tujuan pendidikan di Yatsrib dan Madinah ini semakin luas dibandingkan pendidikan islam di mekkah seiring berkembangnya masyarakat islam dan semakin luas petnjuk-petunjuk Allah semakin luas pula tujuan dan materi pendidikan yang dilaksanakan oleh rosulullah pendidikan islam tidak hanya  diarahkan untuk membentuk pribadi kader islam tetapi juga membina aspek aspek kemanusiaan sebagai hamba Allah untuk mengelola
dan menjaga kesejahteraan alam semesta. Untuk itu umat islam dibekali dengan pendidikan tauhid, ahlak, amal ibadah, kehidupan sosial kemasyarakatan, dan keagamaan serta ekonomi kesehatan bahkan kehidupan bernegara.
Pada awal lahirnya islam, umat islam belum memiliki budaya membaca dan menulis bagi masyarakat Arab budaya membaca dan menulis hanya berkembang dikalangan kaum Yahudi dan Nasrani. Orang arab selain Yahudi dan Nasrani yang dapat membaca dan menulis hanyalah sedikit pada masa Nabi menyiarkan agama di Mekkah dikalangan kaum Quraish ada 17 orang yang pandai tulis-menulis.[5]
Setelah perang Badar ada beberapa tawanan yang pandai membaca dan menulis para tawanan ini dapat menebusnya dengan mengajarkan baca tulis kepada 10 anak muslim untuk seorang tawanan. Pada masa nabi negara islam meliputi seluruh jazirah Arab dan pendidikan islam berpusat di Madinah setelah Rosulullah wafat kekuasaan pemerintah islam secara bergantian dipegang oleh Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pada masa empat khalifah ini wilayah islam telah meluas dijazirah Arab yang meliputi Mesir, Persia, Syiria dan Irak. Para khalifah ini disamping memikirkan perhatian pada pendidikan demi syiarnya agama dan kokohnya negara islam

2.1.5 Pendidikan Islam pada Masa Nabi Muhammad saw di Madinah
Setelah Nabi bersama sahabat-sahabatnya (muhajirin) hijrah ke madinah usaha nabi yang pertama adalah mendirikan mesjid.
Setelah pembangunan itu selesai maka dimasjid itulah nabi mendirikan sholat berjamaah bahkan masjid itulah nabi membacakan alquran dan mendirikan pendidikan dan pengajaran islam pendidikan pertama yang dilakukn naabi ialah memperkuat persatuan kaum muslimin dan mengikis habis-habisan sisa-sisa permusuhan dan persukuan. Lalu nabi mempersaudarakan dua-dua orang. Mula-mula diantara sesame muhajirin kemudian diantara muhajirin dan anshar. Dengan lahirnya persaudaraan itu bertambah kokohlah persatuan kaum muslimin.
2.1.6 Intisari Pendidikan dan Pengajaran Islam yang diberikan Nabi
 Muhammad saw di Madinah
Kurang lebih 10 tauhn lamanya dari tahun 11 H atau dari tahun 622-632 M
Pada masa nabi di madinah diturunkan Alquran sebanyak 22 surat atau kira-kira 1/3 Alquran. Diantara intinya sebagai berikut:
1. Pendidikan keagamaan, Terdiri dari:
 a. Keimanan
Tentang keimanan diperkuat dan dipertebal dengan keterangan yang dibaakan oleh nabi dari ayat-ayat Alquran, dimadinah ditetapkan keimanan yang terdiri dari:
·               Iman kepada Allah
·               Iman kepada malaikat
·               Iman kepada kitab Allah
·               Iman kepada rosul
·               Iman kepada hari kiamat
·               Iman kepada taqdir
b. Ibadat
c. Sholat
Selain  sholat  lima waktu yang telah diperlukan dimekkah di madinah diperlukan sholat jumat, sebagai ganti sholat dhuhur pada hari jumat.
Begitu juga disyariatkan sholat takut yang dilakukan dalam peperangan dan sembahyang hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha serta sholat sunah yang lain.
Selain itu dianjurkan mendirikan sholat serta menjaga waktunya sehingga sholat itu dijadikan sebagai tiang agama.
d. Puasa
Puasa yang dperlukan di Madinah pada tahun 2 Hijriah yaitu pusaa bulan Ramadhan.
e. Zakat
Dalam Alquran tidak diperinci soal zakat hanyalah Nabi yang menerangkan perinciannya, Alquran menerangkan orang-orang yang berhak menerima zakat.
f. Haji
Nabi Muhammad saw baru dapat melakukan haji itu pada tahun 10 H yang dinamai Haji Wada, waktu itu nabi menerangkan cara mengerjakan haji dengan seterang-terangnya sehingga sampai sekarang diikuti oleh kaum muslimin seluruh dunia.

2. Pendidikan ahlak
Pendidikan ahlak yang telah diberikan di Mekkah di perkuat dan diperinci di madinah seperi adab masuk rumah orang bercaka-cakap, bertetangga, adab bergaul, dalam masyarakat dan lain-lain hingga empurnalah soal-soal pendidian ahlak seluruhnya siti aisyah menerangkan bahwa ahlak nabi saw adalah Alquran.

2.2 Pendidikan pada Masa Khulafaur Rasyidin
2.2.1 Abu Bakar
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar telah diguncang pemberontakan oleh orang-orang yang murtad orang yang mengaku sebagai Nabi, dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat pada awal kekuasaannya Abu Bakar memusatkan kosentrasinya untuk memerangi pemberontakan yang dapat mengacaukan keamanan yang dapat mempengaruhi orng islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari islam. Maka dikirimlah
pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah dalam operasi tersebut sebanyak 73 orang islam yang gugur yang terdiri dari sahabat rosul dan para Hafidz Alquran kenyataan ini telah mengurangi jumlah sahabat yang hafal alquran dan jika tidak diperhatikan shabat-sahabat yng hafal Alquran akan habis dan akirnya akan melahikan perselisihan dikalangan umat islam mengenai Alquran. Oleh karena itu sahabat Umar bin Khatab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Alquran. Saran tersebut kemudian direalisasikan Abu Bakar dengan mengutus Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan ayat-ayat Alquran. Dengan demikian khalifah Abu Bakar berjasa dalam menyelamatkan keaslian materi dasar pendidikan islam.

2.2.2 Umar bin Khattab
Pada masa khalifah Umar bin Khatab, kondisi pokok politik dalam keadaan stabil. Melanjutkan kebijaksanaan Abu Bakar, umar bin khattab mengirim pasukan untuk memperluas wilayah islam. Ekspansi islam di masa Umar mencapai hasil yang gemilang yang meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Syiria  Irak  Persia  dan Mesir.
Dengan meluasnya wilayah islam sampai keluar jazirah Arab penguasa memikirkan pendidikan islam didaerah diluar jazirah Arab Karena bangsa tersebut memiliki adat dan kebudayaan yang berbeda dengan islam. Umar memerintahkan panglima-panglima apabila mereka berhasil menguasai suatu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan. Berkaitan dengan usaha itu khalifah Umar mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditklukan yang bertugas mengajarkan isi alquran dan ajaran islam kepada penduduk yang bau masuk islam.
Pada masa khalifah Umar sahabat-sahabat besar yang lebih dekat kepada Rosulullah dan memiliki pengaruh besar, dan pendidikan islam terpusatkan di Madinah sehingga kota tersebut pada waktu itu menjadi pusat keilmuan islam. Meluasnya kekuasaan islam mendorong kegiatan  pendidikan islam bertambah besar karena mereka yang baru menganut islam ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat yang menerima langsung dari Nabi SAW. Khususnya menyangkut Hadist Rosul yang merupakan salah satu sumber agama yang belum terbukukan dan hanya dalam ingatan para sahabat. 

2.2.3 Usman bin Affan
Pada masa khalifah Usman bin Affan pelaksanaan pendidikan tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya pendidikan dimasa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada. Usaha konkrit di bidang pendidikan islam ini di buktikan adanya lanjutan usulan khalifah Umar kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Alquran. Khalifah Usman memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit bersama Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, supaya menyalin mushaf Alquran yang dikumpulkan pada masa khalifah Abu Bakar. Setelah selesai menyalin mushaf itu Usman memerintahkan para penulis Alquran untuk menyalin kembali dan dikirimkan ke Mekkah, Kuffah, Basrah dan Syam, khalifah Usman sendiri memegang satu mushaf yang disebut mushaf Al-Imam.[6]
Mushaf Abu Bakar dikembalikan lagi ketempat peyimpanan semula yaitu rumah Hafsah. Khalifah Usman meminta agar umat islam memegang teguh apa yang tertulis dimushaf yang dikirimkan kepda mereka sedangkan mushaf-mushaf yang sudah ada ditangan umat islam segera dikumpulkan dan dibakar untuk menghindari perselisihan bacaan Alquran serta menjaga keasliannya. Fungsi Alquran sangat fundamental
bagi sumber agama dan ilmu-ilmu islam. Oleh karena itu menjaga keasliannya Alquran dengan menyalin dan membukukannya merupakan suatu usaha demi perkembangan ilmu-ilmu islam dimasa mendatang.
Seperti khalifah-khlifah sebelumnya, khalifah Usman memberikan perhatian besar pada pengiriman tentara kebeberapa wilayah yang belum ditaklukan. Besar juga hasil yang diperoleh dari pengiriman ekspedisi dimasa ini bagi perluasan kekuasaan islam, yang mencapai Tripoli,Ciprus, dan beberapa wilayah lain, tetapi gelombang ekspedisi terhenti sampai disini karena perselisihan pemerintahan dan kekacauan yang mengakibatkan terbunuhnya khalifah Usman.

2.2.4 Ali bin Abi Thalib
Mengganti Usman naiklah Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah sejak awal kekuasaannya kekhalifahan Ali selalu diselimuti pemberontakan, salah satunya peperangan dengan Aisyah (istri Nabi) bersama Talhahd an Abdullah bin Zubair yang berambisi menduduki jabatan khalifah, peperangan diantara mereka disebut dengan perang jamal (Unta) karena Aishyah menggunakan kendaraan unta.
Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah muncul pemberontakan lain sehingga masa kekuasaan khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Muawiyah sebagai gubernur di Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaan Ali, Ali terpaksa harus menghadapi peperangan lagi melawan Muawiyah dan pendukungnya yang terjadi di Shiffin. Tentara Ali sudah hampir pasti dapat mengalahkan tentara Muawiyah, akhirnya Muawiyah mengambil siasat untuk mengadakan takhim, penyelesaian dengan adil dan damai. Semula Ali menolak, tetapi atas desakan sebagian tentaranya ia menerima juga, namun takhim malah menimbulkan kekacauan Karena Muawiyah bersifat curang. Dengan takhim Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan akhirnya mendirikan pemerintah tandingan di Damaskus.
Sementara itu sebagian tentara Ali menentang keputusan dengan cara takhim karena tidak setuju mereka meninggalkan Ali, mereka membentuk kelompok sendiri sebagai kelompok Khawarij, Golongan ini selalu
merongrong kewibawaan kekuasaan Ali sampai akhirnya beliau mati terbunuh seperti yang dialami Usman.
Kekacauan dan pemberontakan dimasa khalifah Ali membuat Syalabi, seperti yang dikutip Soekarno dan Ahmad Supardi, berkomentar
sebenarnya tidak pernah ada barang satu haripun keadaan yang stabil selama pemerintahan Ali. Tak ubahnya dia sebagai orang yang menambal kain usang jangankan menjadi baik malah bertambah sobek demikian nasib Ali. Lebih lanjut dijelaskan oleh Soekarno dan Ahmad Soepardi bahwa saat kericuhan politik dimasa Ali ini ampir pasti dapat dipastikan bahwa kegiatan pendidikan islam mendapat hambatan dan gangguan walaupun tidak terhenti sama sekali, khalifah Ali pada saat itu tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan karena seluruh perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat islam.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada zaman empat khalifah belum berkembang seperti masa-masa sesudahnya, pelaksananya tidak jauh berbeda dengan masa nabi yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran islam yang bersumber pada Alquran dan Hadist nabi, hal ini disebabkan oleh kosentrasi umat islam dan terjadinya pergolakan politik, khususnya dimasa Ali bin Abi Thalib.[7]


 
BAB III
PENUTUP

Dari uraian diatas dapat diperoleh simpulan sebagai berikut:
Pendidikan islam terjadi sejak nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosul Allah di Mekkah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Pendidikan islam mulai dilaksanakan Rosulullah setelah mendapat perintah dari allah agar beliau menyeru kepada Allah,  sebagaimana yang termaktub dalam Alquran surat Al Mudatsir 74 ayat 1-7.
1 Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Dengan meninggalnya nabi Muhammad maka selanjutnya pemerintahan dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin yang diantaranya adalah:
  • Abu Bakar ash Shidieq ( masa pemerintahan tahun 632-634 M atau 11-13 H)
  • Umar bin Khattab (masa pemerintahan tahun 634-644 M atau 13-23 H)
  • Usman bin Affan (masa pemerintahan  tahun 644-655 M atau 23-25 H)
  • Ali bin Abi Thalib ( masa pemerintahan tahun 656-660 M atau 26-40 H)

Daftar pustaka
Asrohah,Hanun, 1999, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Zuhraini, 1997, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Yunus, Mahmud, 1987, Sejarah Pendidikan islam, Jakarta: Hidakarya Agung


[1] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu ), h.13
[2] Ibid, h.15
[3] Mahmud yunus, sejarah pendidikan islam, Jakarta: Hidakarya agung, 1989, h.6
[4] Mahmud Yunus, Opcit, h.8
[5] Zuhrini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h.18
[6] Hanun Asrohah, Opcit, h.19
[7] Hanun Asrohah, Opcit, h.22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar